Jum’at, 21
September 2012
Langit tidak
terlalu buruk dalam ingatanku hari itu. Kuliah yang kuikuti mulai pukul 07.30
WIB itu tidak terlalu mengena, meskipun aku sudah berusaha untuk berdiskusi dan
berkonsentrasi untuk 100% jiwaku mengikuti matkul wajib tersebut. Waktu itu
MPPDA. Kalau dibaca kepanjangannya mungkin kau tidak mau menghafalnya. Lupakan.
Yang jelas saat itu aku tidak bisa berkonsentrasi dengan baik. Kau tahu kenapa?
Ya!!!! Hari itu
aku akan berangkat ke Jakarta! Untuk bertemu salah seorang pujaan hatiku yang
datang jauh-jauh ke Indonesia, dari 13 member boyband yang tak asing lagi di mata kita semua.
Kau tahu siapa
bukan? Super Junior. Kyaaaa!!!! Jika aku mengingat hari dimana aku bertemu
mereka di sebuah konser solo yang mereka bawakan, Super Show 4 (SS4), aku hanya
akan tersenyum senang. Dimana aku terharu melihat mereka saat pertama kali aku
melihatnya. Tak percaya aku ada di antara ribuan ELF yang rela mengeluarkan
segalanya demi idola mereka, termasuk aku. Meski saat itu aku melihat konser
itu seperti aku melihat di layar laptop, meski saat itu aku duduk jauh di
tribun, aku senang dan tidak akan menyesal aku menjadi seorang ELF.
Oh ya, tahukan
kau ELF itu apa? ELF itu kepanjangan dari EverLastingFriends. So sweet bukan?
Indah bukan? Itu adalah sebuah nama yang diberikan kepada penggemar Super
Junior, dari mereka sendiri. Teman selamanya. Arti nama yang sungguh menyentuh
hati. Bukankah kita senang jika kita
dianggap sebagai teman yang tidak akan pernah berakhir oleh idola sendiri?
Apalagi Super Junior dan ELF itu saling mencintai. Saling mendukung satu sama
lain. Saling membutuhkan..
Flashback ke pagi
harinya aku bangun dan segera packing barang-barangku untuk dibawa ke Jakarta
nanti sore. Rencananya sih akan berangkat pukul 15.00 WIB dari lapangan di
deket Malioboro *lupanamanya* makanya paginya aku keburu-buru soalnya malam
sebelumnya kayaknya aku tepar gitu. Jadinya packingnya ga sempet deh. Terus
barang-barangku aku masukin ke tas jinjing pink yang biasa buat baju itu dan
tas punggun biru muda yang kusayangi menyertaiku. Dengan gesitnya aku berangkat
menuju kampus teknik untuk mengikuti kelas terlebih dahulu. Tapi sebelumnya
untuk menghindari pertanyaan yang tidak-tidak dari teman-temanku akhirnya tas jinjingku itu aku titipkan di
sekre BEM.
Sebenarnya sih
aku curiga kenapa ga digerendel pintunya. Aku mikir sih nyante aja, toh aku
punya kuncinya. Setelah aku masukkan kunci ke lubangnya dan kuputar, aku rasa
ada yang aneh. Aku langsung membuka pintu itu. Dan yang benar saja pintu tidak
dikunci dan segera saja aku bilang ‘titip tas’ meski di sana terdapat pindang
yang terhampar(?). Segera saja aku berlari meninggalkan mereka setelah kudengar
timpal dari kata-kataku tadi.
Kembali dimana
setelah MPPDA aku menyusup ke jurusan seberang untuk sedikit mempelajari
Akustik yang aku dengar berhubungan dengan Arsitektur. Memang sih berhubungan.
Di fisika bangunan yang aku dapatkan terdapat materi akustik yang nantinya aku
pelajari. Setelah masuk ke kelas yang ternyata seperempat kelas yang ada di
jurusanku (mau gimana lagi memang 1 kelas di tempatku itu sekitar 70
mahasiswa), aku mencoba memahami dan mendalami. Ktanya sih dosennya mirip aku
dan S1 beliau di Arsitektur. Tapi aku rasa ngga mirip. Mungkin efek kacamata
yang hamper sama.
Kau tahu apa yang
kudapat di kelas itu?
……………nol.
Bagaimana aku
bisa ngerti. Udah telat, masuk kelas. Eh, masuk-masuk dosennya ngejelasinnya
pake slide dan tulisannya bahasa inggris dan penuh rumus tanpa angka. Sugoiiii!
Aku di sana cuma mengamati dengan gaya sok paham. Parahnya lagi apa coba? Di
kelas itu banyak yang aku kenal. Aish. Aku kira aku ga bakal ketahuan masuk
kelas di jurusan rumus itu. Sebut saja Fistek.
Waktu ditanyain
temen yang kami ngga cukup kenal, aku cuman jawab: “JTF kok aku”
*sambilnyengir*.
Hahahaha. Bercanda sih. ._.
Oke. Hp pun
didarati oleh sebuah pesan yang memaksaku untuk keluar dari kelas itu dan
berlari sangat kencang menuju Arsitektur. Terengah-engah ketika aku telah
sampai di studio 2 Arsitektur setelah berlari dari pojok teknik ke pojoknya
lagi. Sebelnya ga ada yang tanya lagi kenapa aku ngos-ngosan. =3=
Panggilan tugas
kelompoklah yang menyebabkan aku hamper mati lari kayak dikejar sesuatu yang
menakutkan. Cueklah yang aku dapatkan setelah menjalani penderitaan efek
sehabis lari itu. Yah, abaikan segala keluh kesahku. Aku hanya ingin
bilang, “Aku capek.”
Ok. Lanjut setelah beberapa pengukuran untuk matkul FisBang
alias fisika bangunan, aku menuju mushola untuk sholat dhuhur setelah para
namja (cowok) udah selese sholat Jum’at. Karena kelaparan dari pagi belum makan
akhirnya aku menunggangi motor hitam yang selalu menemaniku di Jogja yang panas
ini menuju tempat makan di Pogung. Sendirian makannya. Bodo amat, yang penting
perutku terisi. Eh ternyata aku dapet sms salah paham dari temenku, Rutfi yang
ternyata udah jalan ke lapangan Abu Bakar Ali *akhirnyagueingetnamatempatnya*
ngira aku dianter temenku. Aku yang lagi makan langsung dengan rakusnya
kusambar sisa makanan meski ga ku habiskan. Sampai di sekre BEM aku menemui
Wardah yang sebelumnya sudah kuberitahu untuk mengantarkanku. Akhirnya Wardah
pun mengantarkan aku ke shelter depan. Terlihatlah Rutfi sedang menungguku di
belakang shelter, kayaknya kepanasan. Sesudah pamitan ke Wawar akhirnya kamipun
langsung ngacir ke shelter dan tak beberapa lama kami berangkat dengan TJ (Trans
Jogja).
Sekitar kurang lebih 30 menit kami muter-muter ala Putri
naik bus, sampailah kami. Udah cukup ramai. Di sana ketemu sama teman
seperjuanganku nonton SS4 di SG awal tahun kemaren. Setelah molor beberapa
lama, akhirnya kamipun naik ke dalam bus setelah melihat tempat duduk kami di
hp panitia. Dengan PD-nya kami langsung duduk menempati urutan sesuai yang kami
lihat. Eh ternyata itu bukan nomor kami. .______________.
Langsung aja kami pindah ke sebelah sesudah ada yang ngomong
itu tempat duduk mereka. Malu sih ngga, tambah seneng di samping. Soalnya eh
soalnya kami dapet gulungan poster official SFS, pdahal kami udah punya. Yaudah
rencananya sih kami mau ngasihin ke temen akrab kami yang ga nonton SMTOWN ini.
Bus 1 yang kami tumpangi pun akhirnya berangkat. Tapi karena
mesin yang bermasalah kamipun pindah ke bus lain setelah transit di Terminal
Jombor sebelum ke Jakarta. Di situlah tempat duduk kami yang benar sesuai nomor
urut dan denah di hp panitia yang kami lihat.
| Nomor duduk 15 - 16, nomor duduk kami ._. |
| Tas dipangkuan kami, dengan Rutfi di samping jendela dan aku di sebelah kanan |
| Rutfi yang ga mau difoto .__. |
Dimulailah perjalanan cukup menyenangkan kami menuju
Jakarta. Dimulai dengan doa supaya kami selamat sampai tujuan. Berharap bertemu dengan orang-orang yang diidolakan dengan jarak dekat, dengan
diiringi musik dan suara mereka yang merdu di dalam bus itu.
Aku berharap bisa bertemu dekat dengan mereka saat itu.
Part 1 end.